Pages

Tampilkan postingan dengan label ASKEP LANSIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP LANSIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2013

KONSEP DASAR KEPERAWATAN PADA USIA LANJUT (Lengkap)



 Pendahuluan

Dengan makin bertambahnya penduduk usia lanjut (lihat tentang demografi dan epidemiologi penduduk lanjut usia di indonesia),bertambah pula penderita golongan ini yang memerlukan pelayanan kesehatan.Berbeda dengan segmen populasi lain,populasi lanjut usia dimanapun selalu menunjukkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibanding populasi lain.Disamping itu,oleh karena aspek disabilitas yang tinggi pada segmen populasi ini selalu membutuhkan derajat keperawatan yang tinngi
Keperwwatan pada usia lanjut merupakan bagian dari tugas dan profesi  keperawatan yang memerlukan berbagai keahlian dan keterampilan yang spesifik,sehigga di bidang  keperawatan pun saat ini ilmu keperwatan lanjut usia berkembang menjadi suatu spesialisasi yang mulai berkembang.
Keperawatan lanjut usia dalam bahasa Inggris sering dibedakan atas Gerontologic nursing(=gerontic nursing) dan geriatric nursing sesuai keterlibatannya dalam bidang yang berlainan.Gerontologic nurse atau erwat gerontologi adalah perwat yang bertugas memberikan asuhan keperawatan pada semua penderita berusia diatas 65 tahun (di Indonesia dan Asia dipakai batasan usia 60 tahun) tanpa melihat apapun penyebabnya dan dimanapun dia bertugas.Secara defenusi,hal ini berbeda dengan perwat geriatrik,yaitu mereka yang berusia diatas 65 tahun dan menderita lebih dari satu macam penyakit (multipel patologi),disertai dengan berbagai masalah psikologik maupun sosial.
Dalam prakteknya keperawatan jenis penderita ini sulit untuk dibedakan,karena itu dalam buku ini penulis lebih senag istilah perawat lanjut usia.


Konsep Dasar Keperawatan

Secara konseptual,kebutuhan keperawatan adalah memberikan bantuan (assistance) pada penderita untuk melaksanakan pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari (daily needs).Oleh karena itu kebutuhan perawat adalah sama atau hampir sama dengan kebutuhan hidup sehari-hari seorang penderita (Culver J 1969).Gambar skematik dibawah ini akan lebih memperjelas hal tersebut.






Gambar 1. Keperawatan Holistik penderita (=”Total Patienc Care”)


Kesehatan dan penyakit lanjut usia secara umum memng berbeda dengan kesehatn dan penyakit dan segmen populasi lain.Terdapat beberapa hal yang penting dan karaketristik penyakit pada usia lanjut yang perlu diperhatikan untuk memberikan keperawatan yang baik,yaitu:

§  Penyakit pada usia lanjut biasanya bersifat multi matologi, yang menyerang berbagi organ dan sistem,yang biasanya berlangsung secara kronis.
§  Pada usia lanjut sudah terjadi pula berbagai penurunan fungsi dan antomil tubuh akibat proses menua.
§  Penyakit pada usia lanjut biasanya sudah disertai dengan kecacatan dan disabilitas.
§  Penyakit pada usia lanjut selalu mengandung aspek bio-psiko-sosial.

Karena itulah berbeda dengan segmen populasi lain,populasi lanjut usia sangat memerlukan apa yang disebut perawatan penderita secara total atau holistik.Secara umum,hal ini berrti bahwa pemberian keperwatan pada penderita usia lanjut lebih ditujukan pada aspej kesejahteraannya (well being) sebagai manusia dan bukan hanya sekedar keperawatan higiene sehari-hari,penyediaan makanan,bantuan untuk ambulasi atau pemberian obat-obatan sesuai dengan daftar pengobatan dari dokter.Terlebih dari itu adalah upaya khusus yang bersifat memberkan keperawatan secara individual berbeda antara satu individu dengan individu lain,membantunya melakukan pemulihan kesehatan dan mengantarnya kembali aktif di masyarakat dalam keadaan yang terbaik (Culiver,1969).Dalam jeperawatn total ini harus ikut dipertimbangkan semua aspek  perbedaan individual,usia,keinginan dan ketidakinginan,disabilitas,ketergantungan,kebia-saan,kepercayaan,kecemasan,keluhan dan kekhususan dari penderita.Pengertian atas hal-hal tersebut,disertai dengan pertimbangan yang baik akan secara tepat dapat merencanakan pemberian bantuan dan keperawatan bagi masing-masing penderita.

Perawatan penderita secara total memang tidak cukup hanya diberikan oleh tenaga keperawatan.Karena itulah dalam konsep leperawatan penderita usia lanjut diperlukan kerjasama TIM (lihat mengenai tim geriatri).Tim tersebut bukan saja bekerjasam dalam pembuatan konsep penatalaksanaan penderita,akan tetapi juga dalam hal perawatan secara holistik tersebut.Walaupun demikian,peran perawat inap merupakan figur sentral untuk memastikan agar perumatan yang baik dan benar telah dilaksanakn (Culver,1969).Aspek keperawatan pada penderita usia lanjut juga harus berarti pemberian asuhan keperawatan yang mengandung komponen preventif ,promotif ,kurati dan rehabilitatif.Mencegah terjadinya kecelakaan,upaya memberikan fisoterapi dan mobilisasi secepatnya,pengawasan atas pemberian obat dan nutrisi,serta upaya-upaya pemulihan harus selalu dipertimbangkan pada setiap penderita lansia yang dirawat.

Konsep Tim dalam Keperawatan Penderita : Assesmen Keperawatan Menyeluruh

Sesuai dengan hal-hal yang telah dibicarakan diatas,maka konsep TIM dalam keperawatan lanjut usia harus dilaksanakan dimanapun tugas keperawatan tersebut diselenggarakan.Karena pentingnya hal ini,konsep kerjasam tim ini yang bersifat multidisiplin dan dilaksanakan secara interdisiplin akan dibahas secara khusus berikut ini.









Dari skema tersebut terlihat sebagai sasaran adalah berbagai aspek dari kesehatan penderita,antaralain:
·         Diagnosis / masalah kesehatan utama
·         Diagnosis / masalah kesehatan tambahan atau komorbiditas.
Kedua asoek tersebut diatas,tentu saja harus ditangani (terutama) oleh dokter.

  • Msalah nutrisi yang terutama ditangani oleh nutrisionis.
  • Masalah sosial dan lingkungan yang terutama ditangani oleh sosio-medik.
  • Masalah disabilitas dan handikap yang terutam ditangani dokter /petugas rehabilitasi.
  • Masalah lain akan ditangani oleh disiplin yang sesuai.

Akan tetapi,sebagai ujung tombak adalah perawat,yang dalam skema terlihat harus ikut menangani semua aspek dari kesehatan penderita.

Garis yang membentuk /membatasi masing masing disiplin terlihat terputus-putus ,memberi arti bahwa masing-masing tidak secara kaku membatasi pada disiplinnya masing-masing,akan tetapi secara saling tergantung dapat memberikan masukan pada disiplin lain,dengan tujuan akhir bersama,yaitu tercapainya tingkat kesehatan lansia yang lebih baik dan mandiri sesuai tujuan bersama tim yang telah disepakati.

Didalam tim,secara bersama-sama semua anggota tim mengadakan rencana penatalaksanaan jangka panjang atau pendek terhadap kesehatan individu lansia tersebut dan kemudian secara bersama-sam pula mengadakan implementasi atas rencana tersebut.Secara periodik diadakan peninjauan atas implementasi ini untuk diadakan perbaokan dimana perlu atas penatalaksanaan /rencana yang terdahulu.Secara skematik tatakerja tim tersebut dapat dilihat dari skema dibawah ini.



Asesmen
 
 


                                 


 
Jangka Panjang
 
Jangka pendek
 
Keluar RS
 
Review
program
 
Evaluasi program
 
Implementasi program
 
Pembagian tugas
 
Rencana pemecahan masalah
 
Penentuan tujuan
 
Pantau program
 
Implementasi program

 
Idenrtifikasi masalah
 
Identifikasi sumber daya
 
                                  






















             Gambar 3.Alur kerja penatalaksanaan penderita geriatri






Peranan Perawat di Berbagai Jenis Pelayanan Lanjut Usia

Sesuai dengan pedoman pelayanan kesehatan usia lanjut yang dikeluarkan  oleh Departemen Kesehatan RI,maka pelayanan kesehatah lanjut usia harus dilakaukan berjenjang dan berkesinambungan mulai dari masyarakat sampai ke RS yang mempunyai pelayana kesehatan lanjut usia /geriatri lengkap (Dep.Kes RI,1993).Bagan pelayanan kesehatyan lanjut usia tersebut dapat dilihat berikut ini.

Oleh karena itulah perawat dapat ditempatkan dan bertugas diberbagai tingkatan dan tempar pelayanan kesehatan lanjut yusia,yang tugasnya dapat digambarkan secara ringkas sebagai berikut.

A.Di Masyarakat
Tujuan  geriatri adalah mengupayakan sejauh mungkin agar seorang lansia dapat hidup di rumahnya sendiri,dalam lingkungannya sendiri atau dengan bantuan sesedikit mungkin dari orang lain.Untuk mencapai tujuan ini,maka semua aspek geriatri mulai dari upaya pencegahan,peningkatan kesehatan,kuratif dan rehabilitatif menjadi sangat penting.Upaya di masyarakat,berupa upaya preventif,promotif dan kuratif sederhana harus dilaksanakn secara baik,dimana perawat merupakan bagian yang upaya tersebut.

Di masyarakat perawat usia lanjut dapat bertugas di Puskesmas atau di panti wredha dan panti rawat wredha.

Tugas perawat di puskesmas guna kepentingan para lanjut usia tergantung dimana perawat tersebut menjalankan tugasnya.Seperti diketahui tugas pokok Puskesmas diantaranya adalah:
  • Klinik rawat jalan
  • Perawatan di rumah (=home nursing)

Sebagai perawat kunjungan rumah,maka perawat harus bertindak sebagai orang terdepan dalam tim geriatri Puskesmas (bersama petugas sosio-medik dan dokter),dan melakukan tindakan baik yang bersal dari tim kepada individu lansia di masyarakat,atau melaporkan keadaan –keadaan individu tersebut untuk dapat ditentukan penatalaksanaan ap yang perlu diberlakukan kepada individu lansia tersebut.Perawat di sini juga bertindal mengadakan asesmen kesehatan sederhana,nutrisi,lingkungan,dan sosial ekonomi dari lansia tersebut untuk dapat dicatat sebagai data dasar individu lansia yang berada dibawah pengawasannya.Dari data dasr tersebut tim geriatri puskesmas dapat menentukan langkah dan tindakan  yang diperlukan oleh individu lansia.Rincian tindakan preventif,promotif,kuratif dan rehabilitatif yang diperlukan harus ditentukan .Tindakan yang dapat dilaksanakan di lingkungannya sendiri segera ditindak lanjuti,baik oleh petugas puskesmas sendiri atau oleh badan /petugas kesejahteraan yang lain.Langkah dan tindakan yang perlu dirujuk ke instansi yang lebih tinggi dapat diteruskan melalui Puskesmas.

Sebagai perawat yang bertugas di klinik Puskesmas ,dia harus (bersama dengan dokter) mengadakan asesmen keperawatan dan ikut menentukan berbagai nasihat bagi penderita lansia yang datang ke klinik tersebut

Di panti wredha mengingat bahwa oada dasarnya penghuninya adalah para lansia yang masih sehat,biasanya perawat harus bertugas mandiri untuk mengawasi kesehatan penghuni dan dimana perlu mengadakan pengobatan sederhana.Di dalam panti wredha ini ,sebaiknya perawat juga memfasilitasi aspek promotif antara lain dengan mengupayakan dan mengawai nutrisi,olahraga,rekreasi /hobi.Di samping itu perawat bertugas memberikan asupan kepada petugas kesehatan lansia di Puskesmas tentang berbagai masalah kesehatan yang terjadi pada para penghuni panti wredha.Di panti wredha,dimana penghuninya biasanya menderita penyakit kronis  dusertai dengan derajat kecacatan (disabilitas) perawat bertugas memberikan penatalaksanaan berbgai penyakit yang diderita ole penghuninya.Perawat di panti wredha (nursing home) seperti juga perawat di rumah sakit,berperan sentral dalam tim ,karena kontak atau hubungannya dengan penghuni yang biasanya berlangsung 24 jam sehari.Dari berbagai masukan perawat,tim secara bersama-sama menentukan apa yang perlu diberikan kepada penghuni.

B.Perawat di Pelayanan Masyarakat yang Berbasis Rumah Sakit

Perawat disini bertugas sebagai petugas rumag sakit dalam kunjungan rumah dan melaporkan keadaan penderita lansia (yang biasanya berobat /dirawat di rumah sakit tersebut) kepada tim geriatri untuk dicatat perkembangan kesehatannya yang terakhir atau dilakukan tindakan penatalaksanaan yang baru sesuai hasil rapat anggota tim.
Perawat disini juga harus bertindak memberikan pengetahuan (”transfer of knowledge”) kepada petugas kesehatan di masyarakat (Puskesmas,panti wredha atau panti rawat wredha ) tentang tatacara penatalaksanaann kesehatan bagi populasi lansia di daerah tersebut,baik dalam aspek preventif,promotif,kuratif sederhana atau rehabilitatif.

C.Perawat Lansia di Rumah Sakit
Di rumah sakit perawat lanjut usia dapat ditempatkan di berbagai tempat pelayanan kesehatan lanjut usia,antara lain di poliklinik ”day hospital” bangsal akut atau bangsal kronis.Di poliklinik,perawat bersama petugas sosio-medik dan dokter geriatrik melakukan asesmen yang perlu dan melaksanakan asuhan keperawatan ambulatoir yang perlu dikoordinasikan dengan jenis pelayanan di rumah sakit yang lain,misalnya pengaturan nutrisi,rehabilitasi dan pelayanan klinik siang (=”day hospital”).

Di bangsal geriatri akut perawat selain bertindak mengadakan asesmen serta asuhan keperawatan juga mengawasi agar tindakan pelayanan dari disiplin lain dilaksanakan dengan baik.Perawat disini seolah-olah merupakan penyelia umum atas terlaksananya semua tindakan yang telah direncanakan bersama oleh tim geriatri,mengingat bahwa tugas perawat selama 24 jam (dalam beberapa shift ) dapat memonitor dan melakukan tugas dari semua anggota tim.

Tugas perawat di klinik siang terpadu (”day hospital” ) terutama adalah mengadakan koordinasi dengan berbagai modalitas tindakan yang dilaksanakan pada penderita secara individual.

Tugas di bangsal kronis,secara umum hampir sama dengan yang dilakukan di bangsal akut,akan tetapi mengingat jenis penyakit yang diderita oleh penghuni bangsal ,maka pengawasan terutama dijalankan atas tindakan rehabilitatif,walaupun tindakan kuratif,rekreasional dan tindakan yang lain masih tetap dikerjakan.



















PASIEN RAWAT INAP KARENA SAKIT PSIKOGERIATIK
Pasien Psikogeriatri yang menjalani rawat inap dapat dibagi dalam kelompok –kelompok berikut:
  • Pasien yang memerlukan pendamping
  • Pasien-pasien yang memerlukan asuhan
  • Pasien-pasien yang memerlukan perawatan
Urutan dari penggolongan ini adalah menurut tingkat bantuan yang perlu diberikan dalam perawatn diri mereka,dimulai dari menganjurkan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) sampai pengambilan seluruh kegiatan perawatan diri.Setelah dirawat pasien dapat berpindah dari kategori yang satu ke yang lain.

MASALAH KEPERAWATAN DARI PASIEN RAWAT INAP KARENA PENYAKIT PSIKOGERIATRIK

1.Pernafasan
Kemungkinan aspirasi adalah suatu resiko tambahan yang dapat menyebabjan radang paru.Pasien tidak dapat memberitahukan jika ada masalah dengan pernafasannya.
2.Nutrisi
Disamping adanya penurunan rasa lapar dan haus ,mereka dapat makan dan minum tak terbatas .Pasien tidak akan mampu (memilih,memegang,mengunyah,menelan makanan) untuk memenuhi kebutuhannya.Makan dan minum bahan-bahan yang berbahaya atau tidak dapat dicerna,dapat sangat mengganggu kesehatan.
3.Eliminasi
Baik konstipasi maupun retensi urine dapat saja timbul tanpa adanya pemberitahuan dari pasien.Inkontonensia urine dan feses akan timbul secara terus menerus,kadang-kadang karena tidak adanya kamar mandi,tapi juga karena tidak lagi merasakan dorongan-doronga untuk melakukannya.Pakaian dapat mengganggu pasien untuk secara mandiri ke kamar mandi.
4.Regulasi Suhu
Pengalaman yang lain akan unsur panas dan dingin dapat menjadi sebab dari cara bereaksi yang salah terhadap keadaan sekeliling.Pasienpun sering tidak mampu memilih pakaian yang cocok dengan keadaan iklim /musim dalam tahunan.

5.Ambulasi
Pada kelompok pasien-pasien ini,disamping timbul hambatan gerak juga timbul hambatan berjalan.Pada hambatan berjalan timbul bahaya dapat jatuh,ini juga terjadi karena dia tidak dapat melihat atau menafsirkan hambatan-hambatan yang ada.Hambatan-hambatan dalam gerak bisa menyebabkan timbulnya resiko atrofi dan kontraktur.

6.Istirahat,Keteraturan dan Aktivitas
Pasien psikogeriatrik biasanya mengalami gangguan sirkandian malam dan siang.Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat sering akan mengarah pada salah satu bidang secara berlebihan.Pemakaian obat-obatan dapat memberi pengaru negatif terhadap istirahat pasien tersebut.

7.Perawatan Pribadi
Pada umumnya pasien masih tergantung pada bimbingan dan bantuan yang diberikan pengasuhnya dalam perawatan diri mereka .secara naluri pasien sebenarnya menolak ketergantungan ini .Oleh karena kita sering melihat  bahwa pasien pemberian bantuan ini.
Karena mereka kehilangan pandangan rentang kemampuan jasmani mereka.Maka pasien mempunyai masalah dengan melakukan kebiasaan mereka.Oleh karena kurangnya reaksi terhadap tekanan pada tubuh dalam waktu yang lama,maka hal ini da-pat menimbulkan dekubitus.

8.Keamanan perlindungan dan Keintiman
Pasien akan senantiasa merasa dirinya berada dalam suatu lingkungan  yang asing,suatu situasi yang tidak memberi rasa aman baginya.Ia akan selalu mencari lingkungan yang aman,yang mungkin hanya ada dalam angan-angannya.
Selain itu lingkungan di dalam ruang perawatan dapat memberikan bahaya yang nyata bagi pasien (adanya kursi atau kursi roda,tempat tidur yang tinggi,dan lain sebagainya)

9.Komunikasi dan Interaksi
Komunikasi dengan orang lain selalu membawa masalah,baik gangguan dalam daya ingat maupun proses berpikirnya,serta cara menggunakan bahasa yang dapat dimengerti orang lain
Hal ini adalah masalah-masalah dalam kekurangan komunikasi

10.Memenuhi dan Mengtur Kehidupan
Pada pasien psikogeriatrik,pemenuhan pengaturan kehidupannya hanya tertuju pada saat sedang berlangsung.Waktu lampau dan akan datang tidak dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan pemenuhan dan pengaturan hidupnya.






















DAFTAR PUSTAKA
1.Dr.H>Hadi Martono,SpPD,K-Ger,Pelatihan Keperawatn Askep Geriatri,Semarang
2.Dep Kes RI,Buku Stnadar Keperawatan,Jakarta,Depkes RI,1993
3.Josep J Gallo,William Reichel,Lilian M,Andersen,Buku Saku Gerontologi E/2,Jakarta,EGC,1998.
4.Lueckenotte,Pengkajian Gerontologi Edisi 2,Jakarta,EGC,1997
5.Marie Jaffe R.H,M.S,Geriatric Nursing Care Plans,Skidmore-Roth Publising,Inc.El Paso,Texas,1991
6P,J. M Stevens,F.Bordui,J.A.G.Van Der Weydy.Ilmu Keperawatan jilid 2 Edisi 2,Jakarta,EGC,1997.
7. Susan Puder Baugh Ulrich,Szanne Weyland Kanale,sharon Andrea Wendell,A Nursing Care Planning Guides, W.B.Saunders Company,1990.
8. Wahyudi Nugroho,SKM,Keperawatan Gerontik Edisi 2,Jakarta,EGC,2000.








Makalah Lansia/Usila (Lengkap)



BAB I
PENDAHULUAN


I.          Latar Belakang

Semakin majunya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terutama dalam bidang Kesehatan memberikan dampak terhadap peningkatan usia harapan hidup. Peningkatan usia harapan hidup terutama kualitas usia lanjut tidak diikuti oleh peningkatan kualitas kehidupannya, karena secara fisiologis usia lanjut akan mengalami banyak kemunduran dalam semua aspek kehidupannya. Hal ini dapat mengakibatkan tingkat produktifitas dan kemandiriannya secara nyata semakin berkurang, karena kemunduran ini mungkin akan menimbulkan ketergantungan pada orang lain. Namun harus disadari bahwa manusia menjadi tua bukan suatu hal yang luar biasa, karena proses ini adalah peristiwa yang alami yang sudah pasti datang pada orang-orang yang berumur panjang seperti yang dikatakan oleh Cumming dan Henry bahwa dalam proses penuaan perubahan-perubahan yang terjadi tidak dapat dihindari.
Semua orang tentunya ingin hidup sehat, tetapi semua itu sangatlah susah untuk mewujudkannya apalagi dengan usia yang semakin bertambah akan semakin banyak masalah dengan kondisi fisik yang makin melemah, misalnya sering sakit-sakitan, cepet cape, tidak produktif lagi, ingatan juga berkurang, tenaga juga berkurang, sehingga lebih banyak meminta bantuan kepada keluarga dan orang lain sehingga orang-orang beranggapan bahwa lansia tersebut sangat merepotkan. Terutama pada usia lanjut biasanya akan lebih mudah sakit/ terserang penyakit yang kronis. Seperti yang tertulis menurut WHO bahwa di negara berkembang maupun di negara maju jumlah lanjut usia (lansia) maupun usia harapan hidup akan semakin meningkat. Tetapi pada kenyataannya tidak semua lansia seperti yang telah dikatakan di atas. Masih banyak kita lihat lansia yang masih bekerja mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara. Seperti yang kita lihat juga di desa-desa para lansianya masih bekerja dengan giat seperti pergi ke kebun untuk mencari rumput, ke sawah untuk bertani, bahkan masih bisa mengurus rumah sendiri tanpa bantuan anak-anaknya dan kebanyakan di desa para lansianya juga hidup terpisah dari keluarga untuk hidup sendiri. Untuk itu janganlah kita beranggapan bahwa orang yang telah lanjut usia itu tidak bisa melakukan aktivitas yang biasa orang dewasa lakukan.
Walaupun tidak bisa di pungkiri bahwa secara kodratnya pada usia lanjut telah mengalami penurunan fungsi terhadap organ-organ tubuh. Namun menurut berbagai penelitian dikatakan bahwa fungsi organ tubuh yang menurun adalah normal dan tidak selamanya hal ini dapat menimbulkan suatu penyakit hanya rentan. Tetapi apabila kita bisa menjaganya dengan menanamkan gaya hidup sehat  sehingga dapat mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan. Untuk mencapai keinginan hidup sehat seperti usia-usia yang belum lanjut diharapkan untuk olahraga yang teratur, menu makanan sesuai aturan/tidak memakan makanan yang pantang untuk di makan lansia, banyak istirahat, kontrol kesehatan ke dokter. Hanya saja porsinya tidak terlalu berat.
Sebenarnya pada dasarnya secara individu pengaruh proses penuaan menimbulkan berbagi masalah baik dalam hal fisik, biologik, mental maupun sosial ekonominya. Dengan menurunya berbagai fungsi organ maka lansia menjadi rentan terhadap penyakit . Pada hakikatnya penyakit pada usia lanjut sama dengan penyakit pada usia lainnya. Hanya saja pada lansia gejala-gejala dari penyakit-penyakit yang multifel itu sangat atipis sehingga sulit untuk menentukan diagnosa mengakibatkan penanganan kurang tepat yang tentunya dapat memburukan keadaan dan bisa terjadi komplikasi. Biasanya hal ini membuat lansia putus asa dan tidak mempunyai keinginan untuk sembuh, selain itu problem sosial dan ekonomi sangat mempengaruhinya.  

II.       Tujuan Penulisan

Seperti yang kita ketahui bahwa pada usia lanjutakan mengalami kemunduran baik dalam hal kemampuan fisik, menurunnya kecepatan reaksi, kurangnya fleksibilitas dan kekuatan otot karena proses degenerasi. Untuk itu masalah seperti ini kadang-kadang ada yang tidak bisa menerimanya sehingga menyebabkan keputus asaan untuk itu perlulah disiapkan agar lansia dapat beradaptasi untuk menghadapi hari tuanya. Maka dari itu sangatlah diperlukan upaya pembinaan kesejahteraan lansia yang tentunya bertujuan untuk meningkatkan peran serta lansia dalam pembangunan sehingga lansia merasa masih dibutuhkan walaupun usia mereka telah lanjut. Untuk upaya pembinaan kesejahteraan ini dilakukan secara berkesinambungan yang mana salah satu kegiatan yang diharapkan adalah mengadakan pos kesejahteraan usia lanjut. Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah menggambarkan upaya pelayanan bagi warga usia lanjut di suatu pedesaan untuk mencapai kesejahteraan lansia.

III.    Sistematika Penulisan

Penulisan laporan ini terdiri dari :
1.         Tinjauan teoritis tentang kesehatan lansia di masyarakat
2.         Analisa situasional permasalahan lansia di Rt. 02 Rw. 03 Dusun Renggong
3.         Pembahasan, yang terdiri dari :
3.1. Visi dan misi program
3.2. Tujuan Program
3.3. Rencana Strategis
3.4. Rencana Keperawatan
3.6. Hasil uji coba program
3.7. Evaluasi Program
4.         Kesimpulan dan Saran









BAB II
TINJAUAN TEORITIS

Tentang Kesehatan Lansia di Masyarakat


A.          Pengertian Lansia

·              Menurut UU no. 4 tahun 1965 bahwa dikatakan bahwa lansia adalah mereka yang berumur 55 tahun ke atas (Dit. Yankes 1991).
·              Menurut WHO yang dianggap dengan lanjut usia adalah seorang manusia golongan umur 65 tahun keatas, tetapi ada juga yang mengambil batas 60 tahun keatas, bahkan ada pula yang menganggap orang yang berumur 50 tahun keatas (WHO 1976 ; Dit. Yankes 1991).

B.          Pengelompokan Lansia Menurut WHO

·              Midle age             : 45 – 59 tahun
·              Elderly (lansia)     : 60 – 74 tahun
·              Old                       : 75 – 90 tahun
·              Very old               : > 90 tahun
( Pergeri, 1996)

C.          Perlindungan Hukum Terhadap Lansia

·              Kebijaksanaan Pemerintah tentang usia lanjut
Kebijaksanaan usia lanjut ditujukan ke arah tercapainya :
-          Adanya kesadaran dan pengakuan semua pihak terhadap keberadaan dan peranan penting lanjut usia yang berdimensi fisik, kultural, mental dan spiritual dalam proses pembangunan bangsa.
-          Terwujudnya tatanan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang mendorong dan memungkinkan peningkatan produktivitas, pendayagunaan,kemandirian dan peran serta lanjut usia dalam pembangunan nasional sebagai salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia.
-          Berkembangnya secara bertahap pelaksanaan peundang-undangan, tanggungjawab keluarga dan peran serta masyarakat yang mendukung peningkatan pelayanan kesehatan, pelayanan kesejahteraan sosial, pekerjaan dan pendapatan, pendidikan dan latihan serta kemudahan untuk memperoleh pelayanan khusus lain bagi para lanjut usia.
-          Meluasnya penyediaan dan meningkatnya mutu sarana dan fasilitas dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan bagi lanjut usia di bidang agama, kesehatan, jaminan dan kesejahteraan sosial, pendidikan dan latihan serta kesempatan kerja oleh pihak pemerintah, kalangan swasta, dunia usaha, keluarga maupun masyarakat luas.
-          Tumbuh dan meluasnya kehidupan kemasyarakatan yang memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada pengabdian dan keteladanan para lanjut usia.
·              TAP MPR tahun 1993 tentang GBHN yang berisi :
-          Perlu di beri perhatian terhadap penduduk lanjut usia sebagai warga negara yang memiliki pengalaman luas serta kearifan dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh pembangunan.
-          Pelayanan kesehatan oleh pemerintah diberikan dengan memperhatikan secara khusus kepada fakir miskin, anak-anak terlantar dan penduduk lansia yang terlantar.

D.          Teori Proses Menua

a.            Berdasarkan Sistem Organ
Teori ini berpangkal pada menuanya, organisme menuju kerusakan dalam sistem organ tertentu, terutama sistem endokrin dan sistem kekebalan.
Menurut Brown Sequard efek meremajakan dari hormon kelamin yang berperanan. Dengan bertambahnya usia terjadi berbagai macam perubahan hormonal tetapi tidak pernah dihubungkan dengan proses menua.
b.            Berdasarkan Sel
Menurut Weismann bahwa menjadi tua disebabkan oleh penggunaan dan rusaknya sel-sel somatik. Teori wear and tear ini mulai di kenal tahun 1891 dan dihidupkan kembali oleh penelitian Hayflick dan Moorhead tentang potensi sel untuk membelah diri.

E.          Proses Menua

Proses menua adalah suatu proses biologis yang komplek dan secara berangsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel akibat interaksi dengan lingkungannya yang pada akhirnya menimbulkan perubahan degeneratif. Proses penuaan dalam tubuh terjadi perubahan proses degeratif misalnya pengecilan sel. Pengurangan jumlah dan perubahan isi atau komposisi sel, pembentukan jaringan baru dengan akibat timbulnya kemunduran fungsi organ.
Faktor yang mempengaruhi proses penuaan :
1.      Faktor lingkungan dan sosial
2.      Faktor psikologik dan perilaku

F.           Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia

Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi rasa keselamatan, kemudahan dan ketentraman lahir batin yang memungkinkan setiap lansia untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asas manusia.

G.         Kesehatan

Kesehatan lansia meliputi kesehatan badan, rohani, dan sosial lansia dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Berbagai permasalahan kesehatan lansia adalah :
1.            Permasalahan umum
Besarnya jumlah penduduk lansia, jumlah lansia miskin makin banyak, nilai perkerabatan melemah, tatanan masyarakat semakin individualis. Rendahnya tenaga profesional, sarana, dan fasilitas pelayanan bagi lansia terbatas.
2.            Permasalahan khusus
Terjadi perubahan normal fisik lansia yang tidak bisa dihindari dan terjadi perubahan abnormal pada fisik lansia.

H.          Tujuan Keperawatan Lansia

Perawatan lansia bertujuan untuk mempertahankan kesehatan dan kemampuan lansia dengan jalan promotif, preventif, serta membantu mempertahankan dan membesarkan semangat hidup mereka. Selanjutnya perawatan menolong dan merawat lansia yang menderita penyakit dan gangguan (Depkes RI.1992).

Dalam memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap sasaran menggunakan proses perawatan yang menggunakan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan dalam keperawatan.



BAB III

KAJIAN SITUASI ANALISA DAN PERMASALAHAN


I.     ANALISA SITUASI SECARA UMUM

1.1.        ANALISA INTERNAL
A.       STRENGHT ( KEKUATAN )
-         Berbagai jenis tanaman tumbuh subur
-         Curah hujan tiggi
-         Tersedia lahan untuk percontohan
-         Tersedia lapangan
-         Jumlah lansia di Rt. 02 ada 8 orang.
-         Para lansia di Rt.02 masih tergolong mandiri berdasarkan kazt dan Barthel Indeks.
-         Para lansia masih bisa  melakukan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan keluarga seperti ; memasak, mencuci, membersihkan rumah, mencari rumput, pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci.
-         Para lansia hampir sebagian hidup terpisah dari keluarga tetapi berdekatan.
-         Hubungan/interaksi lansia satu dengan lainnya tampak akrab.
B.      WEAKNESS ( KELEMAHAN)
-               Letak geografis pemukiman berbukit-bukit
-               Letak pemukiman jauh dari pasar
-               Pola makan warga tinggi garam
-               Belum tersedianya lahan percontohan
-               Tidak ada program Toga
-               Belum pernah ada penyuluhan tentang kesehatan
-               Kader posyandu yang aktif minim



I.2.       ANALISA EKSTERNAL     :
A.     OPPORTUNITY (PELUANG)
-          Tersedianya tenaga kesehatan 2 orang yang biasa aktif
-          Adanya pembagian Puskesmas yang menangani masalah kesehatan
-          Adanya pelatih senam di Puskesmas
B.        THREAT (ANCAMAN)
-          Jarak Puskesmas yang jauh
-          Bidan jarak prakteknya jauh
-          Transportasi menuju pelayanan kesehatan mahal
-          Tarif praktek kesehatan swasta mahal.



















3.       BAB IV

4.       PEMBAHASAN

5.       VISI DAN MISI PROGRAM

6.       VISI
7.       Membantu para lansia untuk memberikan pada sisa hidupnya menjadi lebih bermanfaat.
8.       MISI
9.       Meningkatkan kesehatan jasmani para lansia
10.   Mengisi waktu luang bagi lansia
11.   Mengontrol kondisi kesehatan lansia
12.   Memberdayakan potensi sumber daya alam
13.   Meringankan biaya pengobatan para lansia

14.   TUJUAN PROGRAM

15.   SENAM LANSIA
16.   Tujuan  Umum    :
17.   Untuk meningkatkan kesehatan jasmani para lansia.    
18.   Tujuan Khusus    :
19.   Mencegah terjadinya osteoporosis atau cedera pada tulang
20.   Meningkatkan kekuatan otot
21.   Mempertahankan keefektifan kerja jantung
22.   TOGA
23.   Tujuan Umum     :
24.   Untuk memberikan alternatif pengobatan para lansia
25.   Tujuan Khusus    :
26.   Cara untuk menanggulangi secara dini yang dapat terjangkau secara lokasi maupun dari segi ekonomi
27.   Untuk pemanfaatan lahan pekarangan
28.   Mengisi waktu luang para lansia
29.  Untuk mensosialisasikan dengan lansia lain

30.  STRATEGI KEGIATAN
31.  PROGRAM
32.  STRATEGI
33.  KEUNTUNGAN
34.  KERUGIAN
35.  PARTISIPASI WARGA
36.  Mengadakan senam lansia
37.  Mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat
38.  Membenahi lapangan
39.  Mengundang pelatih senam
40.  Mengajarkan kader untuk senam
41.  Kegiatan senam lansia
42.  Memeriksa fisik lansia
43.  Membuat lansia bersemangat
44.  Meningkatkan kesehatan jasmani
45.  Mampu bersosialisasi dengan lansia lainnya
46.  Mencegah osteoporosis
47.  Mengisi waktu luang

48.  Rutinitas lansia terganggu

49.  Mendukung rencana program
50.  Mengikuti penyuluhan dengan antusias
51.  Mengikuti senam dengan rutin
52.  Jumlah yang hadir banyak beserta keluarga .
53.  Mengadakan Toga
54.  Mengadakan pertemuan untuk mencari lahan yang strategis untuk percontohan toga
55.  Menyebarkan undangan pada masyarakat
56.  Menganjurkan lansia untuk membawa benih tanaman
57.  Mengundang PPL
58.  Kegiatan penyuluhan
59.  Memanam toga
60.  Menanggulangi secara dini komplikasi penyakit pada lansia.
61.  Lokasi dekat dan murah
62.  Lahan pekarangan dapat dimanfaatkan
63.  -
64.  Mendukung rencana program
65.  Salah satu warga memberikan lahan buat percontohan
66.  Jumlah lansia yang hadir hampir sebagian.
67.  Membawa benih ke tempat penyuluhan.
68.  Mengikuti penyuluhan dengan antusias.
69.  Ikut menanam saat percontohan .


70.  UJI COBA PROGRAM
71.  Senam lansia
72.  Proses :
73.  Mengatur barisan pada saat senam akan dimulai
74.  Lansia terlihat bersemangat waktu senam
75.  Kegiatan senam dilakukan satu jam lamanya
76.  Teknik :
77.  Melakukan senam sesuai kemampuan lansia
78.  Melakukan senam dengan benar dan sesuai dengan aturan

79.  Partisipasi warga
80.  Jumlah lansia yang mengikuti senam 75% dari jumlah lansia yang ada.
81.  Mengikuti senam secara rutin yang diadakan satu minggu sekali.
82.  TOGA
83.  Proses :
84.  Lansia dan keluarga terlihat antusias saat penyuluhan berjalan
85.  Tersedia benih tanaman untuk percontohan
86.  Masyarakat dan keluarga banyak yang bertanya pada saat penyuluhan.
87.  Teknik :
88.  Benih tanaman yang bagus dan segar
89.  Penanaman harus sesuai aturan
90.  Lahan memenuhi syarat untuk dijadikan percontohan
91.  Keterlibatan Masyarakat :
92.  Jumlah lansia termasuk keluarga 2/3 hadir
93.  Masyarakat/keluarga membawa benih pada saat penyuluhan.


94.  EVALUASI UJI COBA PROGRAM
95.  Senam Lansia
96.  Dalam melaksanakan senam lansia berjalan lancar di tandai :
97.  Hampir sebagian besar lansia mengikuti senam
98.  Lansia terlihat senang dengan diadakannya kegiatan senam ini.
99.   Antusias lansia sangat besar dalam mendukung kegiatan ini.
100.                 Adapun hasil dari kegiatan senam ini dapat dilihat dari :
101.                 Lansia terlihat lebih segar setelah mengikuti senam .
102.                 Lansia terlihat akrab dengan lansia lainnya.
103.                 TOGA
104.                 Dalam melaksanakan kegiatan ini berjalan lancar ditandai dengan :
105.                 Banyaknya yang hadir pada saat penyuluhan dan penanaman benih untuk percontohan
106.                 Masyarakat ikut terlibat pada saat penanaman benih tanaman.
107.                 Hasil dari kegiatan TOGA ini adalah :
108.                 Pemanfaatan lahan dipekarangan rumah .
109.                 Masyarakat mencontoh TOGA tersebut dengan menanam benih tanaman di halaman masing-masing rumah
110.                 Masyarakat menyadari pentingnya toga bagi kesehatan dan tahu manfaat dari tanaman yang tumbuh di sekitar pemukiman.















BAB. V.

KESIMPULAN DAN SARAN



A.                KESIMPULAN
Kegiatan yang telah diadakan berjalan lancar dan partisifasi masyarakat untuk kegiatan ini sangat antusias. Kegiatan pembinaan pada lansia belumlah optimal, hal ini terkait dengan kurangnya peran serta keluarga, masyarakat maupun instansi terkait pembinaan Kesejahteraan Lansia yang mana salah satu bentuk peran serta masyarakat terhadap lansia adalah dengan adanya kelembagaan atau wadah bagi lansia.
B.                 SARAN
Dengan adanya kegiatan yang telah diadakan oleh mahasiswa diharapkan kepada masyarakat khususnya lansia terus berjalan dan tidak hanya pada saat ini saja.